U2 Indonesia

Sunday, October 22, 2017

the Edge

Semula ia dikenal sebagai sosok pemalu, namun ia telah berubah menjadi sosok yang berpengaruh untuk style musik era 80-an. Eksplorasinya merupakan bagian terpenting dari karir U2.

Musim gugur tahun 1978, seorang anak berusia 15 tahun berjalan sendirian menyusuri koridor ruangan kelas Mount Temple Comprehensive High School, Dublin, Irlandia Utara. Tanpa memperlihatkan ekspresi apapun, mata tajamnya sekilas menyapu kesegala penjuru koridor, sesekali saling bertegur sapa dengan sejumlah murid lainnya yang ia kenal. Mendadak langkahnya terhenti tepat didepan mading sekolahan. Tanpa sengaja matanya menangkap sesuatu yang menarik tertempel diantara leaflet kegiatan sekolah dan jadwal pelajaran. Menarik, karena isinya sama sekali tidak berhubungan dengan kegiatan sekolah melainkan ajakan membentuk sebuah band. Inilah momen penting masuknya David Howell Evans kedunia musik profesional.

PEMALU

Dave, panggilan kecilnya lahir sebagai anak kedua dari 3 bersaudara. Lahir di kota kecil Barking, kawasan Essex, London timur, pada tanggal 8 Agustus 1961. Kedua orangtuanya, Garvin dan Gwenda Evans, berasal dari kalangan biasa, meskipun begitu Dave dan kedua saudaranya hidup agar berkecukupan.

Layaknya masyarakat kelas menengah di Eropa yang selalu pengen menaikkan status sosialnya, pasangan Evans juga memiliki pemikiran yang sama, hanya saja harapan ini digantungkan pada ketiga anaknya dengan mendidik mereka untuk mencapai jenjang pendidikan tertinggi agar memiliki masa depan yang cerah. Sama sekali tidak terbayangkan bahwa salah satu anaknya akan menjadi musisi.

“Sampai sekarang mereka tetap berharap saya mendapatkan pekerjaan tetap yang layak dan berprospek cerah. Mereka masih beranggapan bahwa apa yang saya raih saat ini hanyalah sebuah keberuntungan saja dan bukan melalui kerja keras. Mereka masih berharap saya mau melanjutkan sekolah dan menjadi dokter” begitu kata Dave aka The Edge pada sebuah wawancara disela-sela perjalanan turnya, pertengahan tahun 1985. Dave dan adik cewenya, Gill, tidak pernah merasakan sekolah di Inggris karena ketika ia berumur 1 tahun orangtuanya pindah ke kota Dublin, Irlandia Utara. Sampai saat ini keluarga Evans menetap disana. Dave yang memang memiliki otak encer tidak mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan, hal yang sama juga terjadi dibangku sekolahnya. Dave sangat cepat menyerap hal baru dan cepat mempelajari sesuatu, hal itu membuatnya selalu menjadi juara dalam pelajaran. Semua gurunya beranggapan bahwa Dave memiliki masa depan yang cerah. Meskipun pintar, Dave bukan murid populer, ia pendiam dan suka menyendiri. Ia merasa aneh menjadi welsh (Wales) di tengah-tengah Irish, dan beragama Kristen Protestan di tengah-tengah penganut Katholik. Dave tidak memiliki banyak teman, karena ia lebih sering jalan bareng kakaknya. Dave menghabiskan waktu luangnya dengan 3 aktivitas rutin: belajar, bermain dengan adiknya, dan mencoba instrument musik. Dave akhirnya memutuskan untuk mengikuti les piano dan gitar.

THE EDGE

Melihat iklan di mading tersebut, membuat Dave bersemangat untuk mengajak kakaknya dan seorang teman bernama Adam Clayton untuk menghadiri pertemuan pertama calon anggota band dirumah Larry Mullen Jr. Sejak pertemuan awal tersebut Dave sudah menjadi sosok yang paling menonjol diantara teman-teman barunya. Hal itu dikarenakan kemahirannya bermain gitar yang membuat teman-temannya kagum, juga dikarenakan ide-ide segarnya yang selalu dilontarkannya.

Bono yang sejak awal memang sangat tertarik pada hal-hal berbau filosofi tentu saja menganggap sosok Dave adalah sosok yang berkarakter. Segala tindak-tanduk Dave tidak luput dari pengamatan Bono, sampai akhirnya Bono memberinya julukan THE EDGE.

Alasan Bono memberinya julukan itu adalah: Ketajamannya cara berpikir yang dimiliki oleh Dave, pola pikir yang selalu ekstrim dan terakhir adalah karena bentuk muka Dave yang melancip dibagian dagu. Sejak itu pula, ngga ada lagi yang memanggil Dave dengan nama aslinya. “Arti harfiah dari The Edge sih rasanya ga ada yang cocok buat saya, jadi julukan itu bagi saya hanya lelucon saja” komentar The Edge mengenai julukannya.

KELUAR DARI U2

Setelah keempat calon musisi ini sempat nge-band bareng dengan beberapa nama, awal tahun 80an, The Edge, Bono dan Larry Mullen Jr. sepakat untuk membentuk band yang beraliran religius. Ketertarikan terhadap masalah spiritual itulah yang membawa mereka bertiga sempat membentuk grup bernama Shalom, yang ternyata tidak bertahan lama dikarenakan adanya pengaruh dari Adam Clayton. Pada era album October, The Edge terbentur pada masalah esensial. Dirinya berada pada persimpangan antara ajaran agama dan gaya hidup rock n roll. Apalagi muncul label kalo sosoknya dianggap relijius, tersiratlah keinginannya untuk keluar dari band !

Untungnya ketiga temannya memberi dukungan atas bakat musiknya, terutama Bono yang dengan bijak menyarankan agar The Edge mengikuti kata hatinya dan jangan ambil pusing pada omongan orang. Setelah merenung cukup lama, The Edge akhirnya memutuskan bahwa tidak ada hubungan antara gaya hidup rock n roll, musik, dan kepercayaan yang dianutnya. The Edge kembali asik nge-band, bahkan tampil lebih dahsyat di album ketiga U2, War. Kejayaan U2 memang tidak lepas dari ekplorasi yang dibuat oleh gitaris elegan ini. Terutama penggunaan alat-alat musik vintage kaya Gibson Explorer, Fender Stratocaster, sampai Epiphone lap-steel yang diproduksi sebelum Perang Dunia II.

INFLUENCING

Gaya gitarnya The Edge mulai jadi influens terbesar pada pertengahan era 80-an. Namanya mulai disejajarkan dengan Chuck Berry, Jimi Hendrix dan Eddie Van Halen yang membuat revolusi besar terhadap style bergitar. Revolusi The Edge memunculkan istilah ‘the Edge guitar sound’ dengan ciri khas partial chords, harmonics, slide, echo repeats, feedback dan open-string.

Influens The Edge ikut berdampak ke industri musik di Inggris dan Amrik. Rata-rata band yang muncul pada pertengahan 80-an, berusaha bikin lagu dengan gitar style mirip The Edge. Dampak lainnya, nyaris seluruh majalah musik yang terbit di Inggris dan Amrik pada pertengahan 80-an dipenuhi dengan iklan baris dari gitaris pemula yang mempromosikan dirinya punya style mirip gitaris U2