U2 Indonesia

Sunday, November 19, 2017

OUR GREATEST GLORY IS NOT IN NEVER FAILING

BUT IN RISING UP EVERYTIME WE FAIL

Saya bukan tipe penyuka novel maupun cerita yang mengharu biru – yang banyak memaparkan kisah sedih. Saya lebih menyukai novel yang penuh imaginasi atau fiktif. Selain itu saya juga kurang menyukai novel beralur lambat, karena sejak saya mulai bekerja belasan tahun lalu, saya hanya dapat membaca buku di malam hari menjelang tidur – jadi kalau sebuah cerita memiliki alur yang lambat, dijamin saya akan tertidur dengan buku menutupi muka.

Ketika membeli buku “Kisah lainnya” saya sendiri tidak tau berharap apa dari buku itu. Alasan saya membeli adalah semata-mata karena sosok Ariel-nya.

Ariel bagi saya menjadi sosok yang menarik untuk diamati justru ketika “kasus”nya mencuat dihadapan publik. Saya sudah bukan remaja lagi, cara saya mengagumi seorang publik figur sudah tidak sama dengan ketika saya masih ABG dulu. Walaupun saya sudah menyukai lagu-lagu Peterpan sejak “Mimpi yang sempurna” pertama kali terdengar, tapi saya tidak mengikuti perkembangan band ini dengan detail sebagaimana saya mengikuti perkembangan U2; selain karena saya memang kurang memiliki waktu untuk itu, juga karena saya hanya ingin menjadi bagian dari pencinta musik-nya saja, bukan terhadap personal-nya.

Sampai kemudian industri entertainmen negeri kita ramai membicarakan kasus yang menimpa sang vokalis Peterpan. Singkatnya, dalam keluarga saya, kami tidak merasa Ariel pantas menerima hukuman atas kasus tersebut. Tidak perlu menjelaskan opini kami karena hanya akan menjadi sebuah perdebatan atas perbedaan cara pandang saja.

Jadi, ketika saya mengetahui mengenai keberadaan buku “Kisah Lainnya” maka tanpa pikir panjang saya pun langsung berniat membelinya. Dibandingkan buku maupun novel lain yang biasa saya baca, buku ini termasuk tipis ukurannya untuk saya, apalagi ditunjang dengan huruf-hurufnya yang cukup besar dan nyaman untuk mata saya yg sudah minus 8 ini. Kurang dari 24 jam saya sudah selesai membaca buku yang “melelahkan” ini.

Ya, buku ini cukup melelahkan emosi saya. Dengan alur yang kadang melompat-lompat antar tahun, Ariel & teman-temannya memaparkan sekelumit kisah mereka; kisah yang tidak cengeng, tapi sangat kuat menekan perasaan pembaca (seperti saya). Kisah yang tidak sampai mengharu biru, tapi cukup menyesakkan dada.

KISAH ITU...

Cerita Ariel dibuka dengan tragedi bulan Mei 2010. Sebelum saya lanjutkan, ada sekelumit cerita mengenai kisah dibulan Mei 2010 ini.

Kira-kira sebulan sebelumnya, mas Djundi sempat menelpon saya untuk membahas hal-hal seputar U2nite 2010. Saat itu belum beliau bertanya: “pengen ada bintang tamu siapa, Thy?” Dan saya langsung mejawab sekenanya; semata-mata karena nama itu yang langsung terlintas.. “Ariel Peterpan aja mas…” beliau tertawa dan mengiyakan, bahwa Ariel memang dijadwalkan menjadi bintang tamu tahun itu. Hooooreee!!!!

Hari-hari berikutnya mas Djundi masih beberapa kali menelpon untuk menceritakan hal-hal seputar U2nite, termasuk soal keberatan Ariel untuk membawakan lagu Ultraviolet. Suatu saat disiang hari, kira-kira 3 hari sejak “kasus” Ariel berkecamuk ditengah masyarakat, saya kembali mendapat telpon dari mas Djundi. Suara beliau tidak seceria biasanya… dan saya pun sudah dapat menebak apa yang akan beliau sampaikan. Kecewa, iya… tapi rasa simpati kami terhadap apa yang menimpa Ariel jauh lebih besar ketimbang kekecewaan karna ia batal untuk tampil diacara besar kami.

Pada chapter pertama, yang diberi judul “Suatu hari di bulan Mei” Ariel mengisahkan urutan kejadian yang ia alami sejak kasusnya mencuat dipublik. Dimulai dari detik ketika ia menyadari bahwa masalah pribadinya telah menjadi konsumsi publik, diikuti dengan masa persembunyiannya - yang saya anggap sebagai masa pertimbangan Ariel terhadap tindakan apa yang harus dilakukannya menghadapi kejadian tersebut - sampai dengan saat ia menjadi penghuni Bareskrim Mabes Polri. Chapter ini cukup menekan emosi, terutama ketika sampai pada bagian Ariel menyerahkan diri pada pihak yang berwajib. Chapter pembuka ini dihiasi dengan guratan pensil Ariel, gambar-gambar yang ia buat selama ia dalam masa tahanan.

Chapter dua, “Musik bagian dari hidup kami” adalah catatan perjalanan Ariel, Uki, Lukman, Reza, dan David dalam mengambil keputusan yang signifikan dalam hidup mereka, memilih industri musik untuk ditekuni. Chapter ini cukup menarik untuk saya, karena seperti yang saya sebutkan diatas, saya tidak pernah berusaha untuk mengetahui kehidupan pribadi dari masing-masing personil. Saya bukan pemirsa setia infotainment yang setiap pagi punya waktu untuk duduk didepan TV dan melahap semua berita seputar selebritis tanah air. Saya tidak tertarik untuk mengetahui apa yang dilakukan oleh para selebritas diluar panggung musik atau layar lebar. Sungguh, saya tidak tertarik.

Jadi, sejak saya single “Mimpi yang sempurna” saya dengar, baru kali ini saya membaca paparan mengenai masing-masing pribadi para personil (eks) Peterpan ini. Baru sekarang pula saya membaca perjalanan karir musik mereka *nyengir*

”Ketika bintang terang menyinari Peterpan” adalah judul untuk chapter tiga. Dari judulnya sudah dapat ditebak bahwa materi dalam chapter ini adalah kumpulan cerita ketika Peterpan menjadi sebuah fenomena baru dalam industri musik tanah air.

Jika saya sebelumnya menyebutkan bahwa Chapter dua cukup menarik untuk saya simak, ternyata chapter tiga justru lebih menarik lagi. Beberapa situasi yang dialami oleh Peterpan pernah saya alami dalam perusahaan tempat saya bekerja dari tahun 1996-2012. Saya melihat sosok Ariel memiliki beberapa kesamaan pola pikir dengan salah satu owner diperusahaan saya. Melalui chapter ini saya kemudian berpikir bahwa Ariel bukan hanya sekedar vokalis, bukan hanya pencipta lagu, tapi dia memiliki kharisma sebagai seorang “leader”. Hal ini semakin diperkuat dalam chapter-chapter berikutnya.

Walaupun saya tidak mengikuti perkembangan gossip selebriti, tapi ketika dua personil Peterpan menyatakan mundur, rasanya wajar jika saya kemudian bertanya pada adik-adik saya, apa yang terjadi dengan band tersebut. Dan masalah pembagian honor kemudian menjadi issue yang saya temui dalam beberapa bacaan. Saya sama sekali tidak peduli dan tidak mencari tau kebenarannya, karena bagi saya hal itu tidak penting selama Peterpan-nya sendiri masih eksis.

Melalui Chapter tiga dalam buku inilah saya mendapatkan paparan yang sangat detail mengenai urusan pembagian hasil dan masalah issue kreativitas dalam tubuh Peterpan. Membacanya lagi-lagi saya tersenyum, semua paparannya sangat masuk akal mengingat saya berurusan dengan hal-hal semacam ini dikantor.

Sampai disini, saya masih merasakan bahwa chapter pertama merupakan bagian yang paling menekan. Tapi setelah menyelesaikan chapter empat yang diberi judul “Yang Lepas dan Yang Terhempas” saya tidak bisa menentukan, mana yang lebih mengaduk-aduk emosi; proses penyerahan diri Ariel, atau proses vakum yang dialami oleh masing-masing personil akibat rusaknya rencana peluncuran album ke-enam Peterpan. Pengalaman mereka masing-masing dipaparkan dalam chapter empat ini. Selain itu, chapter ini juga memperlihatkan kembali kharisma Ariel sebagai seorang leader.

Ketika menyelesaikan chapter ini, layar TV sedang memutar cuplikan perjalanan konser “5 negara, 2 benua, dalam 1 hari”. Rasanya terharu sekali melihat para personil band Noah berada di panggung, setelah masa vakum mereka yang bukan hanya lama, tapi juga menyiksa.

Klimaks dari buku ini, menurut saya justru terdapat pada Chapter Lima: “Jiwa-jiwa baru”.

Bagi penggemar berat serial Dragonball seperti saya, yang entah sudah berapa kali membaca ke-42 komiknya dan menonton video-nya, tidaklah langsung terkagum-kagum pada penggalan lagu milik Kelly Clarkson yang hit beberapa bulan lalu. What doesn’t kill you make you stronger.

Son Goku, tokoh utama dalam serial Dragonball, sangat menyukai pertarungan. Baginya ajang pertarungan adalah tempatnya berlatih untuk meningkatkan kemampuannya. Setiap kali ia selamat dari kondisi kritis (nyaris mati) akibat bertarung, kemampuan daya tarungnya selalu meningkat lebih besar. Dari Goku-lah saya pertama kali mendengar kalimat “what doesn’t kill you make you stronger” yang dikemudian hari baru saya ketahui bahwa itu merupakan kutipan dari ucapan Friedrich Nietzsche.

”Jiwa-jiwa baru” dalam buku ini merupakan cerita lain yang menggambarkan kebenaran ucapan Nietzsche. Ini chapter yang membuat saya terharu, merinding, dan kagum.

Pembaca diajak untuk mengikuti dan melihat proses transformasi Ariel, Uki, Lukman, Reza, dan David – dari sekedar anak band, menjadi sosok-sosok dewasa dengan tujuan hidup yang lebih matang dan lebih bertanggungjawab terhadap profesi yang mereka pilih.

Chapter terakhir yang berisi cerita, adalah chapter enam yang diberi judul “Menyongsong hari yang cerah”. Sosok Uki dan David lebih menjadi sentral dalam chapter ini. Ibarat sebuah besi yang ditempa dan diasah untuk menjadi sebuah pedang bagi seorang pendekar, begitulah saya melihat proses pendewasaan Uki dan David. Ujian mental yang ditujukan pada mereka berdua dalam proses pengerjaan album “Suara Lainnya” sungguh luar biasa, membacanya saja saya seperti mau gila rasanya, hahaha!

Saya baru sadar bahwa album instrumental tersebut luput dari perhatian saya. Jika menilik waktu peluncurannya, ternyata memang ada dalam masa pengunduran diri saya dari perusahaan tempat saya bekerja selama belasan tahun. Akhir bulan Mei 2012 adalah tgl terakhir saya disana, dan bulan Juni-nya saya sudah harus bergelut dengan dunia baru. Jadi pada masa-masa itu, dimulai dari bulan April, banyak hal luput dari perhatian saya. “Suara Lainnya” adalah salah satunya ternyata….

Album ini AMAT SANGAT indah untuk saya. Dan saya merasa sangat malu karena menerima album seindah ini sebagai sisipan gratisan dari sebuah buku seharga Rp. 65.000,- Saya sangat tidak keberatan membeli album ini dengan harga yang lebih tinggi, karena memang pantas. “Suara Lainnya” langsung saya klaim sebagai album favorit saya diatas semua album favorit yg dirilis tahun 2012 ini. Bukan karena album ini adalah karya anak negeri, tapi saya memang menyukai nuansa orchestra yang megah. Dan itu saya peroleh dari karya Ariel, Uki, Lukman, Reza dan David.

Kembali pada chapter enam dari buku “Kisah Lainnya” yang membahas detail setiap proses pembuatan album tersebut. Chapter ini membahas kegigihan Uki dalam menggarap album instrument tersebut. Juga kebulatan tekad David dalam menghadapi penyakit yang menggerogoti disela-sela pembuatan album dan latihan untuk konser mereka. Menyimak cerita mengenai persiapan konser “Suara Lainnya” ternyata seperti membaca cerita suspen yang menegangkan… namun diakhiri dengan kisah yang sangat menyentuh. Bagaimana tidak terharu membaca betapa canggungnya Uki, Lukman, Reza dan David harus tampi dihadapan audience, tanpa kehadiran Ariel.

Jika sepanjang waktu membaca buku ini saya merasa sesak di dada, tapi baru dihalaman 199 saya merasakan mata saya berkaca-kaca, membaca paragraf yang berisi kalimat berikut ini:

“Mengenakan kostum serba putih, kami memulai pertunjukan malam itu pada pukul 20.00. Pemandangan diatas panggung cukup mengharukan. Sebuah mic stand berdiri tegak di tengah panggung, ditemani sebuah gitar akustik putih yang biasa dipakai Ariel. Kami seolah merasakan kehadirannya malam itu.”

Dan pertahanan saya pun runtuh pada halaman berikutnya, ketika sampai pada tulisan kalimat yang diucapkan oleh Reza:

”Kalau tampil bersama Ariel, kita semua bisa merasa seolah kita raksasa”

Saya tidak melihat kalimat itu sebagai bentuk ketidakpercayaan diri atau pengagungan terhadap sosok Ariel. Tapi kalimat itu menunjukan sebuah ikatan yang kuat, menunjukan bahwa Reza dan teman-temannya tidak merasa utuh jika mereka tidak lengkap.

Dua chapter setelahnya sudah tidak berkisah lagi. “Tentang Takdir dan kehidupan” berisi rangkuman Ariel terhadap catatan mereka selama masa penahanannya. Buku ini pun ditutup dengan chapter yang memuat komentar dari pembaca lain.

Dan saya pun menyelesaikan buku ini pada hari minggu, 16 September 2012 sekitar pukul 8 malam – menjelang puncak konser 5 negara, 2 benua, dalam 1 hari yang akan disiarkan oleh SCTV. Menyaksikan konser singkat itu membuat saya tidak berhenti tersenyum. Senyum bangga. Saya bangga karena band yang saya sukai ini telah berhasil melewati masa penempaan yang luar biasa. Cara pandang saya terhadap Ariel, Uki, Lukman, Reza dan David sudah tidak sama seperti dulu… seperti kata pepatah kuno; tak kenal maka tak sayang.. begitulah yang saya rasakan terhadap mereka. Saya tidak lagi memandang mereka sebagai “anak band”, tidak. Mereka pribadi yang matang yang memiliki kemampuan bermusik yang membanggakan, dan memiliki metal yang teruji.

Selamat datang, Noah band..

Semoga semua peristiwa yang telah dilalui memberikan kebersamaan yang lebih erat, dan lebih lama lagi… masa sulit tidak hanya datang sekali, tapi kebersamaan kalian merupakan modal kuat untuk menghadapi badai apapun… Terima kasih telah berbagi pengalaman, mudah-mudahan para pembacanya dapat memetik hikmah dari perjalanan Ariel, Uki, Lukman, Reza dan David dalam kurun waktu 2010-2012.

AKHIRNYA ....

Bareskrim dan Kebon Waru adalah tempat mempersiapkan diri…” begitu pendapat Ariel.

Dan memang kesan itulah yang akhirnya menjadi kesimpulan saya setelah menyelesaikan buku ini.

Setiap manusia memiliki sebuah titik balik dalam perjalanannya menuju manusia dewasa, karena menjadi dewasa merupakah sebuah pilihan. Tidak ditentukan oleh umur dan tidak ditentukan oleh bentuk fisik. Vonis yang dijatuhkan kepada Ariel adalah sebuah jembatan bagi ia dan teman-temannya untuk memasuki alam pikir kedewasaan. Kematangan jiwa Lukman dan Reza mungkin masih akan terjadi entah kapan, jika kasus Ariel tidak menjadi panjang. Ide pembuatan album instrumental yang akhirnya menjadi proses pembelajaran bagi Uki dan David mungkin entah kapan akan terpikirikan, jika Ariel tidak menyerahkan diri.

Tuhan tidak pernah merancang sebuah kecelakaan bagi umatnya. Masalah yang kita hadapi adalah buah dari ketololan kita sendiri, bukan karena rancangan Tuhan. Ia telah menentukan hidup kita, tapi kita pun diberi kebebasan untuk memilih arah mana untuk sampai pada akhir yang sudah ditentukanNya. Jika dalam perjalanan tersebut kita jatuh dan memohon pertolonganNya, Sang Pemilik Nyawa tidak pernah membiarkan kita jalan sendiri. Berdoalah.. seperti yang dilakukan Ariel ketika sidang pembacaan vonis dibacakan:

“Tuhan, tolong hadirlah disini, temani saya sebentar saja biar saya kuat, dan tolong saksikan pengadilan ini. Saya terima apapun keputusannya.”

Comments   

 
0 #10 Nona_PeLos 2014-05-23 15:45
:-) Luar biasa :-*
Quote
 
 
0 #9 SAHABAT NOAH 2013-07-14 12:06
Buku ini kapan diluncurkan gan.???
Quote
 
 
0 #8 andrey 2013-07-14 12:04
Buku ini udah diluncurkan belom mas bro..??? :lol:
Quote
 
 
0 #7 MUSA 2013-04-12 19:20
MEMANG NOAH ITU BAND YANG PALING BAGUS DI INDONESIA YA GAN
Quote
 
 
+2 #6 refi 2013-04-03 11:27
wow,., keren abis gan,.,NOAH i love you full,.,., :D
Quote
 
 
+1 #5 Dodi 2013-04-03 11:26
saya sangat suka sekali dengan NOAH, mereka memang band yang paling bagus,.,.
Quote
 
 
0 #4 nurdin 2013-04-03 11:25
NOah memang is the best gan,.,.
Quote
 
 
0 #3 aliyefi 2013-04-03 11:24
aye juga udah baca tu bukunya gan., seru juga sih,., ;-)
Quote
 
 
0 #2 refand 2013-04-03 11:23
ane juga udah baca gan semuanya,.,.
uuuuuuhhhhhh seru bnget gan,.,.
Quote
 
 
+1 #1 one sahabat kroya 2012-12-29 16:12
8)
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh