U2 Indonesia

Sunday, October 22, 2017

off U2 topics

OUR GREATEST GLORY IS NOT IN NEVER FAILING

BUT IN RISING UP EVERYTIME WE FAIL

Saya bukan tipe penyuka novel maupun cerita yang mengharu biru – yang banyak memaparkan kisah sedih. Saya lebih menyukai novel yang penuh imaginasi atau fiktif. Selain itu saya juga kurang menyukai novel beralur lambat, karena sejak saya mulai bekerja belasan tahun lalu, saya hanya dapat membaca buku di malam hari menjelang tidur – jadi kalau sebuah cerita memiliki alur yang lambat, dijamin saya akan tertidur dengan buku menutupi muka.

Ketika membeli buku “Kisah lainnya” saya sendiri tidak tau berharap apa dari buku itu. Alasan saya membeli adalah semata-mata karena sosok Ariel-nya.

Ariel bagi saya menjadi sosok yang menarik untuk diamati justru ketika “kasus”nya mencuat dihadapan publik. Saya sudah bukan remaja lagi, cara saya mengagumi seorang publik figur sudah tidak sama dengan ketika saya masih ABG dulu. Walaupun saya sudah menyukai lagu-lagu Peterpan sejak “Mimpi yang sempurna” pertama kali terdengar, tapi saya tidak mengikuti perkembangan band ini dengan detail sebagaimana saya mengikuti perkembangan U2; selain karena saya memang kurang memiliki waktu untuk itu, juga karena saya hanya ingin menjadi bagian dari pencinta musik-nya saja, bukan terhadap personal-nya.

Sampai kemudian industri entertainmen negeri kita ramai membicarakan kasus yang menimpa sang vokalis Peterpan. Singkatnya, dalam keluarga saya, kami tidak merasa Ariel pantas menerima hukuman atas kasus tersebut. Tidak perlu menjelaskan opini kami karena hanya akan menjadi sebuah perdebatan atas perbedaan cara pandang saja.

Jadi, ketika saya mengetahui mengenai keberadaan buku “Kisah Lainnya” maka tanpa pikir panjang saya pun langsung berniat membelinya. Dibandingkan buku maupun novel lain yang biasa saya baca, buku ini termasuk tipis ukurannya untuk saya, apalagi ditunjang dengan huruf-hurufnya yang cukup besar dan nyaman untuk mata saya yg sudah minus 8 ini. Kurang dari 24 jam saya sudah selesai membaca buku yang “melelahkan” ini.

Sebelum membaca tulisan dibawah ini, mungkin ada baiknya meluangkan waktu untuk membaca tulisan saya sebelumnya yang terkait:

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sejak grup KLa (project) vakum dari musik tanah air, atau tepatnya tidak produktif lagi dalam memproduksi album, saya nyaris tidak memiliki grup band favorit asal tanah air. Sampai lahirnya album Taman Langit, ditahun 2003. Saya, adik-adik dan mama pun menjadi bagian dari sahabat Peterpan.

Saya bukan pencinta makanan cepat saji, apalagi jika menunya ayam. Jadi, saya biasanya hanya datang ke outlet Kentucky Fried Chicken (KFC) jika sudah sangat kepepet. Suatu kali saya ditawari membeli CD album di outlet KFC, kening saya langsung berkerut. Mengapa KFC jualan CD?

Seiring dengan perjalanan waktu, saya mengamati bahwa deretan artis yang menjual album mereka di KFC semakin banyak… Aaah, menarik! Jadi kita tidak perlu lagi khusus datang ke mall untuk membeli CD – mengingat toko kaset / musik seperti hal-nya Aquarius di Bandung sudah tidak ada lagi. Saya pernah mendengar ada toko musik digital di Paris Van Java (PVJ). Oh my… saya termasuk warga Bandung yang sangat jarang sekali mengunjungi PVJ karena jauh dan macet.

Jadi…, saya pun senang bukan kepalang waktu mengetahui bahwa album Noah Band akan dijual melalui outlet KFC! YAY! Kemudian… saya mulai berkhayal.

Semoga bukan khayalan tingkat tinggi, artinya suatu saat dapat terwujud.