U2 Indonesia

Sunday, November 19, 2017

Apa kata mereka...

It's never about competing with other bands. We compete with ourselves, with the idea of not becoming crap like everyone else does. Because the only way you can justify living like this - with your fancy houses and no money problems - is surely not to be crap.  (Bono)

U2~clopedia

Beberapa artis yang pernah membawakan U2 cover version diantaranya: Pet Shop Boys, Pearl Jam, The Chimes, Muse, Keane, dan musisi seperti Cassandra Wilson, Joe Cocker & Johnny Cash.

Semestinya review untuk album No line on the horizon dibuat oleh Djundi Prakasha, mewakili U2indonesia. Tulisannya pun sudah saya terima sejak 2 minggu lalu.

Lalu saya berpikir bahwa sebuah review harus bersifat netral dan tidak berat sebelah.
Dan baik saya maupun mas Djundi rasanya akan sulit sekali membuat review albumnya U2 tanpa subjektifitas yang kental. Parahnya lagi, keliatannya kami pun tidak berniat untuk menjadi objektif — itu sama saja memaksa seorang vegetarian untuk mencicipi tenderloin steak.
Kemudian ditengah perjalanan dari kota yang satu kekota yang lain untuk urusan kerjaan, saya memikirkan sesuatu. Apa gunanya sebuah review? Untuk siapa review itu ditujukan?
Oooh, pantaslah mas Djundi panik ketika saya todong minta dibuatkan review. Bodoh sekali saya karena tidak menyadari tanggungjawab dari sebuah review. Saya pernah mencela sebuah majalah musik karena memuat review album Coldplay dengan cara yang menurut saya kurang professional.

Weblog ini tidak membahas album manapun dari penyanyi manapun, dan berita apapun selain hal-hal yang berhubungan dengan U2.
Dan inilah point penting yang akhirnya membuat saya mengubah pola tulisan kali ini; bahwa PENGGEMAR U2 TIDAK MEMBUTUHKAN REVIEW DARI SIAPAPUN UNTUK MEMBELI ALBUM U2.

Dan itu bisa berlaku juga bagi penggemar Pearl Jam, Genesis, The Police, Depeche Mode, dll.
Mereka / kami akan dengan gelap mata merogoh kantong untuk membeli rekaman para penyanyi yang kami idolakan.

Jadi, jika anda sebagai pencinta musik yang selalu dapat menikmati setiap jenis musik apapun dan membutuhkan review dari album terbaru U2, saya sarankan tidak mencarinya disini. Karena kami tidak sanggup memberikan review yang minim subjektifitas dan tidak berbau fanatisme.

Kami hanya berkomentar… Sesuka hati!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

THESE BOYS ARE ON FIRE. THIS IS THE SOUND OF U2 IT'S ALL ABOUT!

Kata-kata barusan yang menggambarkan perasaan seorang Djundi Prakasha saat mendengarkan lagu-lagu dari album terbaru – album rekaman ke-12, No Line On The Horizon.
Salah satu situs menyebutkan “their best since achtung baby“, tapi menurut pendapat kami ini merupakan “their best ever since… they never do this things before“.
Saya sendiri tidak bisa mengotak-ngotakkan album mereka, mana yang terbaik dan terfavorit, dsb… tapi sampai dengan album rekaman ke-12 ini ada 3 album yang membuat saya “terpukau amat sangat” setiap kali mendengarkannya, tidak peduli seberapa sering sudah saya ulang dan ulang; The Joshua Tree, POP, dan No Line On The Horizon. Ketiga album itu menghadirkan nuansa feeling yang sama untuk saya.

Dengan review dari majalah Rolling Stone US yang menganugerahi 5 bintang, sepertinya sudah cukup jelas bagaimana NLOTH patut dinilai. Djundi berpendapat bahwa mendapatkan 5 bintang dari Rolling Stone US bukan hal yg biasa.
Euphoria terhadap album ini sudah dimulai sejak dua tahun lalu. Semakin menjadi ketika seorang penggemar menyebarkan beach clip di internet yang direkamnya saat U2 sedang melakukan proses recording. Penantian akan album ini pun semakin tidak tertahankan ketika akhirnya singel pertama diluncurkan, Get On Your Boots, kemudian single No Line On The Horizon 2, video klip Get On Your Boots, penampilan live di beberapa perhelatan musik, terlebih ketika Walmart mengeluarkan preview 30 detik untuk setiap lagu yang terdapat dalam album NLOTH.

Ketika single dan v-klip GOYB beredar, kami sempat berpikir bahwa NLOTH akan seperti album POP; baik sound maupun gayanya.
Nyatanya, sejak hari pertama mendengarkan isi album ini sampai dengan tulisan ini dibuat, sangatlah jauh style-nya dari POP. Bahkan album ini terasa sangat berbeda dari yang pernah ada, sangat tidak nge-pop bagi kuping orang awam. Bahkan mungkin bagi sebagian fans U2 akan sulit atau perlu waktu untuk dapat menerima materi album ini. Jika hal itu terjadi, maka akan terbentuk suatu kemiripan dengan album POP, dianggap sebuah album yang gagal *tersenyum getir*

Well, buatku pribadi – dan kembali aku katakan It’s a masterpiece album! This is U2 what is all about!!! This album is so worth it to wait for…” begitu kata Djundi. Saya sangat setuju sekali.

Ke-sebelas lagu yang dimuat dalam NLOTH masing-masing memberikan “feel” yang berbeda bagi kami berdua.

NO LINE ON THE HORIZON
Baik saya maupun sang sesepuh (Djundi P) merasa lagu ini sangat cocok sebagaiopening song memasuki magical ambience yang membius dengan telak.
Saya sama sekali tidak mengalami kesulitan untuk menyukai lagu ini. Langsung klop! Saya sungguh-sungguh mengagumi musiknya yang “kaya”. Seperti menghadiri sebuah pertunjukan hebat dan inilah genderang-nya yang meminta perhatian penonton bahwa acara akan segera dimulai.
Versi yang terdapat dalam album ini bagi saya jauh lebih brilliant dibandingkan dengan versi yang terdapat pada single Get on your boots.

MAGNIFICENT
Djundi Prakasha — Banyak yang berspekulasi bahwa ini akan menjadi next single setelah GOYB. Aku membayangkan (dan berharap) lagu ini akan menjadi opening tunes dalam rangkaian tur mereka nanti. Seperti City of Blinding Lights, baik dari intro maupun refrain, sangatlah memungkinkan untuk menjadikannya sebagai lagu pembuka.

Ketika melakukan editing dan finalisasi tulisan ini, saya menemukan sebuah situs mendapatkan bocoran bahwa memang Magnificent telah dikonfirmasi akan menjadi single kedua yang akan rilis pada 11 Mei 2009, dan V-klipnya akan dilakukan di Fez, Maroko.
Waktu saya mendengarkan preview 30 detik saya langsung berani meng-klaim dalam pikiran saya bahwa inilah lagu yang akan mudah diterima oleh pendengar – saya tidak ingin mengkotakannya kedalam penggemar U2, tapi saya sebut para pendengar. Makanya saya tidak merasa heran ketika salah seorang teman (sekali lagi, bukan penggemar U2 tapi pendengar setiap jenis musik) langsung jatuh cinta pada lagu ini; pun ketika akhirnya beberapa orang teman saya dari luar komunitas U2 memuji lagu ini… senyum saya semakin lebar… I knew it!!
Jika lagu NLOTH saya anggap sebagai genderang dari pembukaan pertunjukan, maka track ke-2 inilah lagu pembukanya!

MOMENT OF SURRENDER
Djundi Prakasha – Aku yakin sekali kalau lagu ini bisa digunakan sebagai bagian dari “sing a long” dalam konser. Ambience musiknya mengingatkanku pada If God will send His Angel hanya saja yang ini “melayang”.. to the rhythm of my soul, to the rhythm of my unconsciousness. Dan bagian oooo…oooo… di akhir lagu mengingatkan pada Love is Blindness. –

Hal pertama yang membuat saya menyukai lagu ini adalah karakter suara Bono ketika meneriakkan kalimat pertamanya “I tied myself with wire… To let the horses run free
Jujur, saya sungguh terhenyak mendapati pembukaan seperti itu.. sebelum sampai kebagian chorus, saya harus mengakui perpaduan musiknya luar biasa sekali ketika memaksa saya menapaki nuansa muram yang terus di built-up selama kurang lebih 5 menit dan kemudian akhirnya kembali ke alam nyata mendekati 1 menit terakhir menjelang akhir lagu. Saya harus mengulangnya berkali-kali untuk memastikan bahwa emosi yang saya rasakan dalam lagu ini bukan semata-mata pengaruh dari suasana maupun situasi yang sedang terjadi dalam hidup saya. Feeling yang sama ketika saya mendengarkan “White as snow”.

Dan setelah melewati hari-hari yang tidak lepas dari album ini [sejak saya membuka mata dipagi hari sampai menjelang mata saya tertutup pada dini hari pula], saya dapat memastikan bahwa emosi saya tetap sama setiap mendengarkan lagu ini.. bahkan ketika rapat-rapat kerja yang saya hadiri memberi kabar baik. Ini bagian favorit saya:
I’ve been in every black hole.. At the altar of the dark star
My body’s now a begging bowl… That’s begging to get back
Begging to get back to my heart.. To the rhythm of my soul
To the rhythm of my unconsciousness… To the rhythm of that yearns
To be released from control

UNKNOWN CALLER
Djundi Prakasha — Saat clip yang menampilkan 30 detik preview beredar, aku sudah menjagokan lagu ini. Ter-confirmed setelah aku mendengarkan keseluruhannya. One of the best track. –

Lirik dalam lagu ini merupakan lirik favorit saya dari ke-11 lagu yang ada. Mungkin karena menggunakan istilah-istilah yang dekat dengan keseharian saya?!? Hahahaha…
Escape yourself and gravity… Force quit and move to trash…. Restart, and re-boot your self… Password, you, enter here…
Musiknya membuat saya berkomentar bahwa dalam album ini U2 menyajikan musik yang bisa dibilang cukup penuh, bervariasi/kaya dan elegant. Dari mulai suara kicau burung yang mengawalinya dengan kesan yang segar dan fresh — apalagi ditambah dengan “sunshine… sunshine…” — kemudian ditutup dengan nuansa orkestra berbau gospel yang kental. Luar biasa!!
Feel yang saya dapat hampir mirip ketika saya mendengarkan “I still haven’t found what I’m looking for“. Bedanya, lirik lagu lama tadi mengingatkan saya pada isi kitab suci, sedangkan lirik lagu ini mengingatkan saya pada kantor!

CRAZY TONIGHT
Djundi Prakasha — Lagu yang pasti akan masuk dalam daftar “song list” untuk next tour. Jujur saja, judul lagu ini menimbulkan spekulasi yang meleset dari kenyataan-nya. Sempat terpikir olehku bahwa lagu ini akan lebih up tempo… akan gila-gilaan. Sedikit meleset, tapi teteeep…. anthem!!! –

Saya tidak mungkin tidak setuju dengan mas Djundi, karena jelas saya kecele ketika membaca judul lagu ini. Saya sudah mengkhayalkan lagu up tempo yang gila dan saya sangat menanti-nantikan lagu ini karena khayalan tadi.
Walaupun tidak segila khayalan kami , tetap saja ada bagian-bagian yang membuat saya seperti kesetrum. Bagi saya sendiri, lagu ini menghadirkan kesan santai dan nyaman.. walaupun nyetrum.
Yeah… saya bekerja diantara para engineer elektro dan IT. Kata mereka, belum lulus kalau belum terbiasa kesetrum.
Beberapa bagian musik dilagu ini mengingatkan saya pada “Where the street….”

GET ON YOUR BOOTS
Djundi Prakasha — Single pertama yang sudah dibawakan beberapa kali secara live, saat tulisan ini dibuat…
Lagu yang paling berbeda dengan yang lainnya di album ini, yang membuat salah banyak orang akan album NLOTH…. hahhahha! Klip-nya keren dan sangat futuristik. Lagunya pun sangat pumping. –

Saya kegirangan setengah mati ketika mendengarkan single ini. Seandainya saya tidak sedang berada diruang kerja saat itu, saya pasti sudah melompat-lompat. Dengan kegirangan yang berlebihan saya langsung membentuk judgement akan seperti apa album baru ini. Hah!! Untungnya saya tidak sendirian, karena ternyata Sexy Boots ini jelas menjungkirbalikan asumsi banyak orang akan warna dari NLOTH.
Saat ini saya masih menganggap lagu ini sebagai anomali dalam NLOTH. Walaupun ada Breathe, tapi GOYB tetap berbeda. Mengutip kata seorang teman, Irvan, lagu ini seperti perpaduan Vertigo dan The Fly.

STAND UP COMEDY
Djundi Prakasha — setelah beberapa kali mendengar lagu ini, rasanya cukup lama untuk bisa langsung suka. Ambience yang sama saat mendengarkan lagu Love And Peace Or Else.

Berbeda dengan sesepuh saya diatas, saya justru tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyukai lagu ini, rhythm-nya langsung cocok sejak pertama kali bahkan sebelum lagunya selesai. Tapi jika harus kembali ke-era HTDAAB, memang saya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyukai lagu Love And Peace Or Else.

FEZ-BEING BORN
Djundi Prakasha — Lirik terpendek yang ada di album ini. Thanks to Eno, ambience yang sangat kental seperti di Passengers. Buat penggemar Depeche Mode pasti bakal sukaaaaa sama lagu ini, setuju??? hahhahahha.. –

Lirik terpendek dengan musik terhebat bagi saya.
Ketika satu, dua bahkan tiga orang menanyakan kepada saya mengenai 3 lagu favorit saya dalam album ini, saya sangat kesulitan untuk menjawabnya. Saya sangat setuju sekali bahwa ke-11 lagu di album ini memberikan feel yang berbeda-beda, itulah yang membuat saya sulit untuk memilih apakah saya lebih menyenangi track nomor 1 atau nomor 2, dst.
Album ini saya putar setiap hari, dari pagi hingga menjelang pagi — hanya jika sedang rapat saja saya tidak memutarnya. Dan saya benar-benar merasa seperti sedang disiksa jika harus memilih mana lagu terbaik. INI ALBUM TERBAIK U2 bagi saya, jadi janganlah memaksa saya memilih yang terbaik dari yang terbaik.. hahaha!
Ketika saya berada dalam kemacetan dijalan tol KM34 dari Jakarta menuju Bandung, pada tanggal 7 Maret, akhirnya saya memutuskan 3 lagu favorit saya untuk saat ini, mungkin bisa berubah 2-3 bulan yang akan datang.
Diurutan pertama adalah FEZ-Being Born, kemudian White as Snow dan diikuti oleh Unknown Caller.
Khusus untuk track ini, intro-nya membuat saya merinding dan merasa tegang, deg-deg-an sepanjang lagu.. seperti sedang menantikan sesuatu. Kemudian koor-nya melengkapi segala pujian saya untuk lagu ini.

WHITE AS SNOW
Djundi Prakasha — satu dari lagu favorite-ku di album ini. Lagu U2 tersedih atau “tergelap” yang pernah ada. Perpaduan antara The hands that build an America danGrace yang bisa bikin berkaca-kaca kalau suasana hati lagi yellow mellow….”for only a heart could be as white as snow

Seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwa saya mengalami kesulitan untuk menentukan 3 lagu favorit karena saya merasa ada benang merah antara FEZ-Being Born, Moment of Surrender, dan White as Snow. Mungkin benang merah itu adalah emosi.. tapi mungkin juga yang lain. Nuansa musiknya pun saya rasakan mirip sekali antara ketiga lagu ini.
Tapi sesepuh saya itu benar sekali, inilah lagu tersedih.. bahkan bagi saya pribadi, ini lagu termuram diantara deretan panjang diskografi U2. Pengontrolan emosi Bono pada setiap bait sangat rapih sehingga tidak meletup-letup.
Suara indah Bono melafalkan bait-baitnya seperti sedang berdoa, dan ketika sampai pada bagian “and the moon shone above me” siapa yang tidak dibuat merinding? Ketika akhirnya pun Bono harus menjerit pada bagian “To sleep the night shooting out the stars” terdengar seperti tangisan dalam doa yang berusaha ditahan dengan pengontrolan penuh… bagi saya, inilah the magnificent song.

BREATHE
Djundi Prakasha — mengingatkan pada Windows in the skies dan soundtrack Across the universe, surprise! Seperti biasa setiap lagu pasti lebih seru saat dibawakan secara live kan? –

Ini satu-satunya lagu yang belum bisa saya komentari sampai detik ini. Bukan karena saya tidak menyukainya.. tapi saya belum menemukan kata dan kalimat yang pas untuk menggambarkan kesan saya. Sejujurnya saya memang butuh waktu lebih lama dari kebanyakan orang dalam mengomentari album baru U2, hehehe.

CEDARS OF LEBANON
Djundi Prakasha — sebagai lagu pamungkas, ambience dan “feel” yang mirip kalau aku mendengar Wake up Dead Man. Backing vocal dengan adanya suara-suara lain di lagu ini bikin warna yang sangat berbeda. Mengakhiri cerita/ambience dari awal lagu sampai lagu terakhir di album ini… –

Bagi saya ini adalah lagu penutup yang cantik dan complicated. Saya sangat menikmati setiap detail yang terdapat dalam lagu ini. Aransemennya luar biasa keren… ditujukan untuk U2ers sejati.
Dengan lagu ini sebagai pentup, saya mengagumi susunan ke-11 lagu dalam album ini. Penempatan lagu pada setiap urutannya mempengaruhi nuansa yang terbentuk di alam pikiran saya, membuat dunia sendiri… dunia U2 yang magnificent. Dunia yang tidak bisa dipahami banyak orang…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Saya dan Djundi Prakasha memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya untuk kerjasama Brian Eno, Daniel Lanois, Steve Lillywhite, Larry Mullen, Dave Evans, Paul Hewson, dan Adam Clayton.
Penantian kami tidak sia-sia untuk karya sekeren ini. These boys are on fire….!!!!!!

Tidak hanya 11 sebelas lagu yang kami kagumi, tapi karya Anton Corbijn dalam urusan artwork… warna covernya hampir senada dengan All That You Can’t Leave Behind dan sangat mewakili dengan judul album No Line On The Horizon…
Karya-karya dari trio Eno-Lanois-Lillywhite dan U2 terasa tidak lengkap jika tidak ada sentuhan tangan mr. Corbijn, dan saya ragu ada penggemar U2 yang tidak setuju dengan hal itu.

Tags:

Add comment


Security code
Refresh