U2 Indonesia

Sunday, November 19, 2017

Apa kata mereka...

It's never about competing with other bands. We compete with ourselves, with the idea of not becoming crap like everyone else does. Because the only way you can justify living like this - with your fancy houses and no money problems - is surely not to be crap.  (Bono)

U2~clopedia

Beberapa artis yang pernah membawakan U2 cover version diantaranya: Pet Shop Boys, Pearl Jam, The Chimes, Muse, Keane, dan musisi seperti Cassandra Wilson, Joe Cocker & Johnny Cash.

adalah sebuah fenomena

Bukan sensasi dari kepiawaian memainkan alat musik yang menjadi kekuatan band ini. Juga bukan dari sikap eksentrik ala Rock ‘n Roll star yang membuat orang kerap membicarakan mereka.

Sebaliknya, selama tidak kurang dari 37 tahun berkarya, justru sisi human dari merekalah yang paling menonjol. Hal tersebut dibuktikan dengan penghargaan Humanitary Honor yang mereka terima pada bulan Agustus 2005 di Portugal.

Beberapa orang teman mengatakan bahwa musiknya U2 rumit ! Mungkin ada benarnya.

Tanpa menghilangkan ciri khas mereka dalam bermusik, ke-empat orang ini terus bereksplorasi dan bermetamorfosis mengikuti perubahan jaman. Begitu terus hingga sekarang. Hal tersebut membuat dunia musik sepakat bahwa kwartet Irlandia ini dikategorikan sebagai mega-rock band. Bahkan tidak sedikit yang menyebut mereka sebagai The Best Band in the World.

Diawal pembentukannya, Larry Mullen Jr. sama sekali tidak berniat untuk menjadi terkenal. Tur yang panjang, rekaman, penghargaan musik, sama sekali bukan tujuannya. Ia hanya ingin membentuk grup band sebagai wadah bereksperimen dan mengasah kemampuannya bermusik. Itu aja.

Niatnya tersebut sangat cocok dengan keinginan The Edge yang memang sangat menggilai instrumen musik. Adalah Bono dan Adam Clayton yang berambisi untuk membawa band mereka mendunia ! Walaupun ditahun-tahun pertama Larry, Bono dan The Edge malah berniat menjadikan band mereka sebagai band yang mengusung lagu-lagu religius.

Musik akhirnya bukan lagi sekedar hobi tapi telah menjelma menjadi suatu profesi yang dijalankan dengan penuh tanggungjawab.

  • Tanggungjawab terhadap management tim-nya,
  • Tanggungjawab terhadap perusahaan rekaman,
  • Tanggungjawab terhadap para sponsor,
  • Tanggungjawab terhadap pencinta musik !

Jika hanya sekedar hobi, akan ada saat-saat dimana salah satu anggota akan berada dalam momen "lagi ga mood buat bikin album !"

Menjaga kebersamaan diantara 4 orang teman (atau bisa dikatakan partner kerja?) selama puluhan tahun bukan hal yang mudah. Diperlukan toleransi yang luar biasa untuk melewati kurun waktu yang telah mereka lalui.

Dengan keluarga / saudara sendiri saja kita kadang bisa tidak sepaham, apalagi dengan teman-teman yang ditemui berdasarkan iklan di mading sekolahan! Masing-masing personil U2 ketika bergabung memiliki “agenda” sendiri-sendiri dikepalanya.

Larry hanya menginginkan memiliki wadah untuk menyalurkan hobby musiknya. Larry yang sangat mencintai bunyi drum hanya ingin agar gedebak-gedebuknya menghasilkan harmonisasi yang berarti, bukan sekedar membuat telinga tetangga menjadi panas.

The Edge sangat ingin menguasai segala jenis alat musik. Dengan menjadi bagian dari sebuah grup band, paling tidak ia berharap dapat mempunyai sparing-partner. Niat awalnya hanyalah supaya ia dapat mencoba segala jenis instrument musik dengan suatu alasan yang jelas baginya.

Bono, membutuhkan tempat pelarian dari gumpalan kekecewaannya terhadap lingkungan. Ia membutuhkan komunitas yang dapat menerima kekurangannya, jika dimungkinkan komunitas itu berhubungan dengan musik, semata-mata karena ia sangat suka mendengarkan musik. Walaupun belakangan niatnya berubah; ia akhirnya ingin menyalurkan semua unek-uneknya agar dapat didengar oleh banyak orang.

Sedangkan Adam, yang sudah tidak tertarik lagi pada dunia pendidikan hanya berniat agar terlihat keren dan terkenal saja dilingkungannya – semata-mata karena ia bergabung dengan sebuah grup musik.

Dengan “agenda” masing-masing itu, mereka bertahan selama hampir 35 tahun. Bukan sekedar bertahan, tapi juga terus berkembang, ber-prestasi, dan beradaptasi. Beberapa tahun belakangan ini konser mereka selalu berada di urutan teratas baik dari segi jumlah penonton maupun jumlah dollar yang dihasilkan.

Membuat suatu prestasi bukan hal yang mudah, diperlukan konsistensi dan ketekunan dalam menjalani prosesnya. Masalahnya, “agenda” dikepala masing-masing personil dapat berubah dengan berjalannya waktu. Tidak mudah untuk menjaga ego masing-masing agar tetap menjalankan tuntutan dari Management band-nya, tuntutan produser, tuntutan para sponsor, perkembangan pasar – belum lagi idealisme masing-masing personil. Idealisme semata belum tentu bisa diterima oleh pasar global mengingat pasar industri musik akan selalu berkembang sejalan dengan kemajuan teknologi; selera pasar akan ditentukan oleh begitu banyak factor yang bermunculan.

Kebanyakan grup band yang bubar adalah karena tidak dapat menjaga ego masing-masing. Adanya benturan antara keinginan para anggota, tuntutan Management, keinginan pihak Label / Recording, keinginan sponsor, dsb. Akhirnya kembali lagi pada keinginan band itu sendiri; ingin sekedar bermusik sebagai hobby, atau ingin “bekerja” dalam industri musik. Bekerja artinya membutuhkan tanggungjawab.

U2 sangat mengerti bahwa dalam sebuah organisasi diperlukan adanya pembagian tanggungjawab dan mereka berkomitment untuk menjaganya dengan baik.

Urusan membuat lagu dan juru bicara band diserahkan sepenuhnya pada Bono, yang ditunjuk sebagai frontman. Padahal diawal pembentukannya, justru Larry-lah yang paling getol dalam membuat lagu. Ketika Bono menumpahkan unek-uneknya terhadap apapun dalam lirik lagu, tidak ada satupun personil yang lain yang protes. Begitu juga ketika Bono berulang kali menciptakan lagu untuk almarhum ayahnya, semua membiarkan.

Untuk urusan engineering dan hal-hal yang berbau teknology dipercayakan pada The Edge. Ketika ia sedang kegilaan pada genre techno sehingga melahirkan album Trilogi Technotrika ala U2, personil lain pun tetap enjoy.

Masalah sound system, atau hal-hal prinsip dalam musik dipegang oleh Larry. Sedangkan urusan penampilan adalah tugas Adam. Promosi dan hal-hal yang berbau marketing sudah jelas dipegang oleh Paul McGuinnes, sang manager yang menjadi tua bersama dengan U2. Masalah pernak-pernik, logo dan urusan graphis sejak lama dipercayakan pada Steve Averil.

Semua itu berjalan bertahun-tahun, puluhan tahun! Apa jadinya jika salah satu personil bersikeras ingin menentukan urusan graphis, atau tiba-tiba merasa lebih pintar dalam urusan marketing hanya karena membaca 2-3 buku mengenai marketing. Ketika ego sudah disirami dengan minyak sok tau, kehancuran hanyalah masalah waktu…

Ketika Bono mulai terlibat lebih jauh dengan masalah politik dan misi kemanusiaannya, apa komentar personil lainnya?

Biarkan aja dia keliling dunia untuk urusan itu, supaya kita bisa kerja tenang tanpa dicerewetin. Kalo ada dia, komentarnya bisa bikin kita susah mikir ! Kadang kita memang membutuhkan dia untuk pergi sebentar” kurang lebih seperti itu jawaban The Edge.

U2 bukan tidak pernah menghadapi ujian … Beberapa kejadian nyaris membubarkan grup ini. Kejadian pertama terjadi di taun 1982, setelah album October di-release, saat itu The Edge merasa berada di persimpangan antara ajaran agama dan gaya rock ‘n roll sehingga memutuskan untuk keluar dari U2. Untungnya Bono berhasil meyakinkan bahwa dia tetap dapat menjalankan ajaran agamanya dan bisa tetap bermusik karena kedua hal itu tidak akan berbenturan selama mereka dapat menjaganya.

Selanjutnya, ketika konser Live Aid tahun 1985, saat itu Bono membawakan lagu Bad yang aslinya hanya 4 menit jadi molor ke 12 menit gara-gara aksi panggungnya yang kebablasan. Akibat dari kejadian itu, single andalan mereka saat itu – Pride (in the name of love) – tidak dapat dibawakan diatas panggung. Atas kekonyolan itu, Bono menyatakan niatnya untuk mundur dari U2. Tapi justru dengan aksi itu Larry, Adam & The Edge malah merasa yakin bahwa Bono memang cocok untuk jadi vokalis.

Tapi masalah terbesar yang dihadapi U2 datang dari “Mister Tebar Pesona” – begitu julukan Bono untuk Adam Clayton; basis yang paling rock ‘n roll dalam band mereka.

Tahun 1989 Adam tertangkap polisi karena membawa ganja. Masalah ini mengakibatkan jadwal tur U2 berantakan. Tidak kapok tertangkap sekali, Adam kembali terkena razia saat mengendarai mobil dalam keadaan mabuk berat. Dan yang paling parah adalah ketika U2 sedang menggelar konser spektakuler-nya ZOOTV ditahun 1993. Obat-obatan terlarang itu membuat Adam tidak sanggup naik panggung & harus digantiin oleh roadie-nya sendiri, Stuart Morgan.

Bono mengaku sempat pusing tujuh keliling gara-gara ulah ajaib sang Flamboyant itu, tapi apa komentarnya mengenai Adam ? “a real friend won’t do any harm. Saya tidak peduli pada tur, konser, or whatever. Saya peduli pada Adam !” Ketika Adam akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kebiasaan mabuknya, Larry-lah yang diserahkan tanggungjawab sebagai babysitter untuk menemanik Adam menimba ilmu musik ke New York.

Bagi U2, menjalani 37 tahun itu merupakan hal yang tidak mudah, tapi juga bukan tidak mungkin. Walaupun tidak dapat disangkal bahwa kebersamaan mereka tidak lepas dari faktor emosional yang mengikat satu dengan yang lain, namun mereka dapat menjaga profesionalisme kerja sebagai bagian dari industri musik. Kesadaran mereka terhadap tanggungjawab merupakan hal yang patut ditiru.

Predikat Mega Rock Band, atau The Greatest Rock Band atau The Best Rock Band yang sering diberikan oleh industri musik kepada mereka merupakan kebanggaan untuk U2. Itu merupakan pembuktian atas apa yang telah mereka kerjakan dan sekali lagi, prestasi tersebut meminta kesabaran selama TIGAPULUH TUJUH TAHUN saja …

Viva U2 Forever ! (20 agustus 2010)

Tags:

Add comment


Security code
Refresh