U2 Indonesia

Tuesday, June 19, 2018

Oleh Donny Verdian

Banyak orang bilang bahwa album kedua adalah ujian sesungguhnya dari sebuah band/penyanyi solo.

Kalau album pertama laku keras itu masih mungkin terkontaminasi faktor “luck” semata, maka album kedua adalah pembuktian bahwa jalan hidup si band/penyanyi solo itu bukan berhenti hanya disitu melainkan terus bertahan hingga album-album selanjutnya.

U2 mengecap pengalaman yang sebenarnya tak terlalu sukses pada album kedua yang diberi tajuk October. Album ini, dibandingkan dengan semua album rekaman studio U2 yang telah keluar ke pasar hingga tulisan ini ditulis (07/2008), adalah yang terendah dari sisi angka penjualan. Entah kenapa tepatnya, tapi menurutku di album ini U2 tidak bisa menciptakan sebuah“I Will Follow” yang baru atau jika menilik pada album-album berikutnya, Bono dan kawan-kawan tidak mampu membuat hits-hits “abadi” seperti Sunday Bloody Sunday, With or Without You ataupun Elevation. Mungkin juga, October tidak terlalu laku karena muatan “berbeda” yang ditunjukkan U2 di dalamnya.

Secara umum, October bicara soal iman mereka, tentang “pertemuan dengan Tuhan” melalui kehidupan Larry Mullen Jr, Bono dan The Edge yang tercatat sebagai anggota kelompok doa “Shallom Fellowship” yang bernafaskan kristiani. Hal ini bisa jadi merupakan sesuatu yang sulit diterima di tengah masyarakat barat pada awal tahun 80-an yang mulai menjadi semakin sekuler.

Kesulitan akibat “beda konsep” tengan hal yang disukai antara U2 dengan para fansnya yang semakin membanjir sejak Boy sukses dipasaran ini pun sepertinya diakui Bono melalui sebuah komentar pada media tahun 2005 yang lalu menyoal seretnya penjualan album October ini. “Can you imagine your second album- the difficult second album- it’s about God?”.(U2′s Rock and Roll Hall of Fame Induction Speeches)

Secara definitif, dan kupikir masih terkait dengan tema besar album October yang bicara soal Iman dan Tuhan, Bono mengungkapkan betapa pilihan kata “Rejoice” itu sendiri, yang sering digunakan dalam konteks keagamaan khususnya kristiani, juga menimbulkan persoalan yang tidak mudah menyangkut soal penerimaan masyarakat.

Kata “Rejoice” sangat tidak umum digunakan pada waktu itu, meski Bono berkeras bahwa kata tersebut sebenarnya jauh memiliki kekuatan dan makna ketimbang istilah-istilah sepadan yang umum digunakan waktu itu seperti “get up and dance, baby”. Di luar masalah itu, proses rekaman album yang direlease pada 16 Oktober 1981 ini juga memiliki persoalan unik.

Pada sebuah show yang diadakan diantara masa rekaman October, Bono kehilangan koper kecilnya yang berisi lirik-lirik untuk album ini padahal band sudah memesan studio untuk rekaman. Maka jadilah Bono mengandalkan ingatan seadanya serta secara spontan membuat lirik lagi di depan mikropon pada saat rekaman berlangsung. Coba simak pengakuannya berikut ini tentang hal tersebut:

I remember the pressure it was made under, I remember writing lyrics on the microphone, and at £50 an hour that’s quite a pressure. Lillywhite was pacing up and down the studio…he coped really well. And the ironic thing about October is that there’s a sort of peace about the album, even though it was recorded under that pressure.” (U2 at the RDS, U2 Magazine No. 2 ! Februari 1982).

Kotak koper itu sendiri pada akhirnya ditemukan pada tahun 2004, 23 tahun sesudahnya! Dan Bono menyambut penemuan itu sebagai “an act of grace”(BBCNews)

Secara musikalitas, menurut penilaianku tidak ada satu hal yang benar-benar baru dibanding album pertama mereka yang terbit setahun sebelumnya, Boy. Ada ritme dasar yang sama pada tabuhan drum Larry Mullen Jr, petikan bass yang juga sama dari Adam Clayton Jr serta riff-riff unik gitar The Edge. Kalaupun ada inovasi baru, menurutku adalah penggunaan Uileann Pipes pada laguTommorow serta pemakaian piano secara optimal untuk melakukan blocking pada keseluruhan lagu October dan Scarlet yang dilakukan oleh The Edge.

Bagiku adalah sesuatu yang sulit kalau harus menentukan mana track yang paling favorit dari album yang masih diproduseri oleh Steve Lillywhite ini karena secara keseluruhan tidak ada sesuatu yang terlalu menggigit. Akan tetapi kupikir Tommorow dan October adalah yang terunggul meski secara lirik aku menyukai With a Shout (Jerusalem).

Terlepas dari apapun reaksi pasar terhadap album ini, satu prestasi yang menjadi awalan yang baik bagi U2 adalah anggapan bahwa pentingnya penggunaan video musik sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses kreatif mereka telah mulai dijadikan acuan sejak pembuatan album kedua ini hingga sekarang ini.

Tags:

Comments are now closed for this entry