U2 Indonesia

Friday, September 21, 2018

Oleh Donny Verdian

Ketika membuka Wikipedia dan mendapati bahwa Boy, album pertama U2 dikategorikan dalam genre Post-Punk, aku memicingkan mata dan berpikir “Masa iya? U2 memainkan postpunk di album pertamanya?” Menurutku, genre itu terlalu jauh untuk menjadi golongan bagi U2.

Di mataku, band yang digawangi oleh Paul Hewson a.k.a Bono (vocal, guitar), Dave Evans a.k.a The Edge (lead guitar, backing vocal), Larry Mullen Jr (drum, perccusion)dan Adam Clayton (bass guitar) itu adalah band pengusung rock dengan bau-bau Irish di sana-sini karena memang mereka berasal dari Irlandia !

Sementara jika pendapat Wikipedia itu hanya bersandar pada angka produksi tahun 1980 yang memang periode dimana masa Punk generasi pertama seperti Sex Pistols telah tergantikan oleh generasi post-punk seperti The Police, The Cure serta Depeche Mode, kok sepertinya kurang pada tempatnya untuk tidak dikatakan latah. Dari sisi musik.. ah aku cenderung untuk tidak terlalu dalam pada pembahasan area itu karena itu bukan domainku.

Aku, toh hanya mampu menyebutkan ciri musik yang tampil pada BOY ini tanpa memberikan satu kesimpulan sama sekali. Ada riff-riff gitar yang cenderung statis dengan chord-chord standar, tabuhan drum yang meledak-ledak disela ritme yang disusun secara monoton (apa mungkin karena pengaruh Artane Boys Band, drumband yang salah satunya beranggotakan Larry Mullen Jr sebelum 1976 ?) serta suara bass yang menonjol dan kasar karena mungkin dipetik menggunakan pick dan tidak menggunakan jari secara langsung seperti yang banyak dilakukan oleh Sting (bassist sekaligus vokalis The Police) maupun Allan Hill(The Cure).

Tak cukup hanya percaya dengan Wikipedia dan pendengaraan sesaat yang mungkin sangat subyektif, aku pun mencoba membandingkan dengan memutar koleksi lawas kepunyaan Sex Pistols, Anarchy in U.K dan beberapa lagu lainnya. Satu hal yang menurutku menyisakan kemiripan hanyalah pada karakter vokal yang meninggalkan vibrasi dan terkesan lurus, lempeng, malah terkadang meledak-ledak dan berteriak. Lain, tidak!

Sebagai pembanding yang kedua, kupilih The Police dan The Cure. Mungkin karena kedua band ini pun mengeluarkan album pada tahun-tahun yang nyaris sama dengan BOY, memang terdengar ada banyak kesamaan nafas antara mereka dengan U2. Tapi sekali lagi, apa hanya karena itu lalu U2 pun bisa dianggap mewakili genre post-punk padahal genre toh tak harus hanya ditambatkan pada bagaimana cara mereka memainkan instrumen musik, bukan ?

Satu-satunya yang boleh dibilang sebagai clue dari album BOY-nya U2 terkait dengan wacana Post-Punk menurutku adalah tema lagu yang didaraskan serta pilihan-pilihan kata yang dirangkai dalam lirik lagu mereka.

Ada nafas pemberontakan dan jiwa yang DIY (Do-It-Yourself) dalam lagu-lagu mereka. Ada “mantra-mantra” yang diucapkan secara lugas seperti If you walkaway, walkaway I walkaway, walkaway…I will follow pada lagu I Will Follow dan frase Stories for Boysyang didengungkan berulang-ulang pada reffrein lagu dengan judul yang samatersebut. Lihat pula perjuangan “akil balik” pada Out of Control yang bahkan masih sanggup menyemangati pagi hariku meski aku sudah mulai menua dan menjauh dari masa akil balik tersebut ?

Disitulah kutemukan Punk! Tak hanya post-punk! Bagiku U2 adalah Neo-punk, pengusung semangat punk yang menyeruak, menembus batas dan dimensi yang seharusnya hanya bisa dilakukan lewat jalur musik akan tetapi tidak terpaku pada satu bentuk tata-matra musik yang statis saja. Teriakan-teriakan ide seorang Bono lewat lagunya adalah sebuah perjuangan. Ia tak mungkin akan pernah mau berteriak jika ia tak mau dan tak mampu untuk berjuang. Sebuah fase yang mungkin terkadang terkesan too much, overacting dan kebablasan, tapi aku yakin ia sendiri yang menetapkan batas takarannya, ketika dunia memang harus dikomentari secara berlebihan seperti itu, kenapa tidak ?

Itulah! Pada akhirnya aku mendapatkan pendekatan yang cukup jelas dan tepat untuk “setuju” dengan apa kata Wikipedia menyoal genre musik yang diusung pada album BOY ini. Bagiku, hingga saat ini dan entah sampai kapan, semangat yang ada dalam setiap lagu U2 adalah sebuah neo-punk dan bahkan punk itu sendiri!

Sebuah punk yang berkembang. Sebuah improvisasi yang terasa sangat kentara dari album ke album.

Dari yang semula sekadar “protas-protes” ala teenagers yang sedang beranjak keyoung adult, menjadi sebuah “ajakan yang menggugah”, sebuah offering sekaligus effort dari mereka untuk membangun dunia yang lebih baik dan lebih nyaman untuk ditempati. Dan dari itu semua, dari seluruh kiprah U2 hingga akhir mereka nanti, serta terlepas dari masalah punk, post punk maupun rock saja, satu hal yang perlu dicatat.. mereka mengawalinya dari BOY! (DV)

Tags:

Comments are now closed for this entry