U2 Indonesia

Saturday, January 20, 2018

Ditulis oleh Donny Verdian.

Pada awalnya adalah ikut-ikutan. Dan betapa aku sangat bersyukur karena telah ikut-ikutan. Bayangkan jika tidak, U2 adalah musik genius dan aku tak mau dibilang “sok genius” karena bisa mencerna U2 secara mudah dan langsung.Kenapa aku suka U2?

Lalu kenapa ikut-ikutan? Biar dibilang keren

Banyak kubaca di koran dan majalah bahwa musisi-musisi papan atas negeri ini serta luar negeri, kebanyakan menggandrungi U2. Nah, karena dulu ingin dipandang “berkelas” aku pun mulai menjejalkan U2 ke gendang telinga.

Bagiku dulu, akhir dekade 90-an, tentu akan sangat “wagu” kalau misalnya ditanya pacar ataupun gebetan baru “Musik kesukaan kamu apa, Don?” lalu aku menjawabnya dengan “Oh, Stinky!”

Dijamin, dia pasti akan langsung manggut-manggut dengan mungkin agak sedikit mengernyitkan alis yang hendak jatuh sambil menggumam “Ah, biasa!”

Beda dong kalau misal aku menjawabnya dengan “Hmmm… saya nggak punya musik favorit. Tapi suara serak Bono dan sengatan gitar The Edge itu mampu mengalahkan kopi pagiku setiap hari!”

Dia pasti akan lama terdiam lalu bilang “Ouwwwww.. ya! ya! Kamu maniak U2 ya?” Maka aku hanya akan mengangkat pundak, tersenyum dengan menaikkan ujung bibirku sebelah saja ke atas dan membuka telapak tangan tanpa bersuara terlalu banyak lagi.

Well, pada awalnya kecintaanku pada U2 terlalu naif bukan? Akan tetapi tiga bulan setelah kenaifan itu berawal, semuanya berubah. Sehari tak mendengar lengkingan Bono pada paruh akhir lagu With or Without Youataupun mendengarkan melodi unik The Edge pada lagu Where The Streets Have No Name, ibarat waktu, maka perjalanannya terasa berkurang satu detik sehingga tidak bisa menggenap menjadi 60 untuk membentuk satu menit.

Maka jadilah sejak saat itu aku mulai menjadikannya sebagai musik yang harus selalu diputar pada pemutar cakram CD ku karena pada waktu itu teknologi dan gadget secanggih iPOD belum ada.

Sampai sekarang pun, setelah bertahun-tahun, setelah era CD telah berangsur berakhir dan tergantikan dengan iPOD yang kebetulan kepunyaanku adalah U2 Special Series Limited Edition, aku tak juga tahu pasti kenapa aku suka U2. Kalau cuma disuruh menjawab bahwa U2 itu menarik karena lirik-lirik lagunya kuat ataupun karena mereka adalah band yang ber-proses, ya bisa saja, tapi mencari alasan yang paling hakiki mengapa aku bisa suka dengan U2, itu sama saja dengan mencari alasan kenapa kita, orang Indonesia, kebanyakan dan bahkan hampir semua sangat suka dengan yang namanya nasi.

Sepertinya ini berlebihan? Sungguh tidak! Untuk menghargai sebuah band terbesar sepanjang sejarah peradaban aku memang tak mau menyandingkan diri melalui deskripsi yang miskin. U2 adalah hal termanis… the sweetest thing dalam musik, anugerah yang datangnya tak tentu seabad sekali.

Tags:

Comments are now closed for this entry