U2 Indonesia

Sunday, November 19, 2017

Tulisan ini pertama kali saya muat di blog lama saya, pada 28 April 2007; lima tahun lalu. Ketika sedang melakukan proses pemindahan (peng-upload-an) data ke platform baru ini, saya ingin mengangkatnya kembali dan mengeluarkannya dari folder "archives" untuk sementara waktu; dengan menambahkan beberapa data sesuai dengan kondisi terbaru. Semoga bermanfaat ...

Membaca tulisan “my dinner with Bono” yang ditulis oleh Marshall Goldsmith untuk Business Week, April 2007, meninggalkan pelajaran cukup menarik. Goldsmith menjadikan perjalanan identitas Bono sebagai suatu cermin untuk mengembangkan diri.

Lingkungan kita terkadang melahirkan suatu identitas baru yang mau tidak mau – suka atau tidak suka – harus kita lakoni. Goldsmith sendiri berprofesi sebagai konsultan bagi para eksekutif dalam pengembangan kepribadian mereka mengarah pada leadership behavior. Menurut Goldsmith (setelah bertahun-tahun menjalani profesinya), ia akhirnya menyadari bahwa jika kita menginginkan adanya perubahan behavior, maka kita tidak bisa hanya berpaku pada sikap kita sehari-hari. Cara kita membuat batasan terhadap kemampuan kita sendiri pun akan berpengaruh banyak dalam pembentukan behavior kita nantinya.

Identitas Bono

Bono ketika masih remaja, hanyalah orang biasa dengan tingkah yang mirip dengan kebanyakan remaja sebaya-nya. Cara pandang, cara bicara, bahkan gayanya pun tidak terlalu menarik banyak orang. Ketika musik rock n roll mulai merasuki hari-harinya, Bono menjelma menjadi seorang penggemar musik rock yang begitu mengagumi band-band tertentu, menikmati lagu-lagu mereka dan mulai memperhatikan bagaimana cara kerja idolanya.

Kecintaannya terhadap musik rock akhirnya mendorong Bono membuat sebuah komitmen dalam bermusik, saat itulah identitas sebagai musisi mulai ia lakoni. Membuat lagu, bermain musik bersama teman-temannya membuat Bono sangat menikmati identitas barunya.

Keseriusan Bono dalam bermusik tanpa disadarinya kemudian menjadikanya seorang rock star. Sebuah identitas baru lagi. Tampil dihadapan ribuan orang yang memujanya, membuat Bono mantap menjalani lakon barunya sebagai seorang rock star. Aktivitasnya sebagai orang terkenal, yang membawanya travelling around the world, maupun bertemu dengan orang-orang yang memiliki pengaruh / kekuasaan, tiba-tiba membuka matanya terhadap sesuatu yang terjadi dibelahan dunia lainnya.

Adalah perjalanan Bono ditahun 80an yang menjadi titik-balik perubahan identitas Bono selanjutnya sebagai humanitarian. Tidak sedikit yang menjuluki Bono sebagai the man with a mission. Yup ! Bono tidak setengah-setengah dalam menjalani identitasnya tersebut. Tidak usah dibahas satu-satu karna penggemar U2 pasti sudah tau apa yang dikerjakan Bono dalam misi kemanusiaannya.

Tahun 2012 ini media ramai membicarakan investasi Bono pada situs jejaring sosial, Facebook, yang mengukuhkannya sebagai rocker terkaya melewati sir Paul McCartney.

Melewati berbagai perubahan status sosial tidak membuat Bono menjadi seorang public figure yang besar kepala. Papparazi mencintainya, karena Bono sendiri tidak pernah merasa perlu memusuhi kelompok ini. Lihat saja bagaimana ia menghadapi para pencari berita dan fotografer disebuah acara dikota Dublin pada natal tahun lalu. Dengan tetap memberikan privasi kepada anak-anaknya, ia dan Ali tetap melayani para pencari berita bahkan dengan minum champagne bersama.

Saya masih ingat salah satu ucapan Bono yang dimuat oleh majalah Q edisi November 2004 silam: "the only way you can justify living like this - with your fancy houses and no money problems - is surely not to be a crap"

Katakan ‘tidak’ pada ketidakmampuan

Kembali pada Goldsmith, setelah mendengarkan cerita Bono, ia akhirnya menarik kesimpulan mengenai karakter dari vokalis grup kita ini.

Bono, tidak pernah membiarkan ketidakmampuannya menjadi penghalang bagi apa yang ingin dilakukannya. Ketika ia ingin memutuskan menjadi musisi, ia tidak peduli dengan kemampuannya memainkan alat musik. Kita semua tau kan kalau diawal pembentukan U2, Bono adalah satu-satunya yang tidak bisa memainkan alat musik. Di salah satu halaman buku "U2 by U2", The Edge juga bercerita bagaimana dia geli melihat Bono sok memainkan gitar didepan segerombolan murid wanita sekolah mereka, sekedar untuk menarik perhatian.

Tanpa kita sadari, cukup banyak batasan yang kita ciptakan bagi kemampuan kita sendiri.

Berapa sering kita mendengar orang mengatakan kalimat-kalimat ini:

"duh, saya tidak bisa bicara didepan banyak orang" atau "saya memang susah mencerna perkataan orang lain" atau "wah, itu bukan gue banget !"

Kalimat-kalimat itu hanya akan menjadi tembok pembatas bagi kemampuan diri sendiri. Bagaimana kita dapat mengetahui sejauh mana potensi yang ada dalam diri kita jika belum apa-apa sudah mengeluarkan senjata pamungkas berupa kalimat-kalimat pembatas tadi. Apa yang kita pikirkan mengenai diri kita sendiri akan membentuk kita menjadi seperti itu. Kita pikir kita tidak bisa, maka kita memang akan menjadi tidak bisa. Kita pikir kita takut, maka kita memang akan jadi takut.

Masih dari buku "U2 by U2", Bono mengungkapkan bahwa ia tidak pernah tau sampai dimana dirinya dapat melakukan sesuatu. Ia akan terus meng-eksplore dirinya untuk mengetahui apa saja yang sanggup ia lakukan. Well, raihlah apa yang kita inginkan ! Dimulai dengan menyingkirkan definisi-definisi kaku yang telah kita ciptakan untuk diri kita sendiri. Be like BONO !

Comments are now closed for this entry