U2, The Sweetest Thing
Seperti yang pernah disampaikan sebelumnya, bahwa U2-Indonesia.com menerima tulisan dari siapapun, selama itu masih seputar topik U2. Tema tulisannya bisa apa saja; baik itu pengalaman pribadi dengan U2 seperti mas Djundi, atau kisah asal-muasal kecintaan kita terhadap U2 seperti yang pernah diceritakan oleh Irvan, review atau artikel seperti yang pernah dibuat oleh Nike.
Kali ini kami berkenalan dengan salah seorang penggemar U2 lainnya, Donny Verdian, yang juga bersedia menyumbangkan tulisannya.
Sampai hari ini kami sudah menerima 2 tulisan yang akan ditampilkan satu per satu.
Tulisan yang kami tampilkan kali ini menceritakan asal-mula kesukaan Donny pada U2. Semoga tulisan ini dapat menjadi perkenalan dengan sesama penggemar U2 yang lain. Tak kenal, maka tak sayang; kata pepatah kita
Selamat menikmati dan jangan lupa memberi komentar ya
To: Donny,
Terima kasih atas ijin pemuatannya.
Admin
================================================================
Kenapa aku suka U2?
Pada awalnya adalah ikut-ikutan.
Dan betapa aku sangat bersyukur karena telah ikut-ikutan.
Bayangkan jika tidak, U2 adalah musik genius dan aku tak mau dibilang “sok genius” karena bisa mencerna U2 secara mudah dan langsung.
Lalu kenapa ikut-ikutan?
Biar dibilang keren
Banyak kubaca di koran dan majalah bahwa musisi-musisi papan atas negeri ini serta luar negeri, kebanyakan menggandrungi U2.
Nah, karena dulu ingin dipandang “berkelas” aku pun mulai menjejalkan U2 ke gendang telinga.
Bagiku dulu, akhir dekade 90-an, tentu akan sangat “wagu” kalau misalnya ditanya pacar ataupun gebetan baru “Musik kesukaan kamu apa, Don?”
lalu aku menjawabnya dengan “Oh, Stinky!”
Dijamin, dia pasti akan langsung manggut-manggut dengan mungkin agak sedikit mengernyitkan alis yang hendak jatuh sambil menggumam “Ah, biasa!”
Beda dong kalau misal aku menjawabnya dengan “Hmmm… saya nggak punya musik favorit. Tapi suara serak Bono dan sengatan gitar The Edge itu mampu mengalahkan kopi pagiku setiap hari!”
Dia pasti akan lama terdiam lalu bilang “Ouwwwww.. ya! ya! Kamu maniak U2 ya?”
Maka aku hanya akan mengangkat pundak, tersenyum dengan menaikkan ujung bibirku sebelah saja ke atas dan membuka telapak tangan tanpa bersuara terlalu banyak lagi.
Well, pada awalnya kecintaanku pada U2 terlalu naif bukan?
Akan tetapi tiga bulan setelah kenaifan itu berawal, semuanya berubah.
Sehari tak mendengar lengkingan Bono pada paruh akhir lagu With or Without You ataupun mendengarkan melodi unik The Edge pada lagu Where The Streets Have No Name, ibarat waktu,
maka perjalanannya terasa berkurang satu detik sehingga tidak bisa menggenap menjadi 60 untuk membentuk satu menit.
Maka jadilah sejak saat itu aku mulai menjadikannya sebagai musik yang harus selalu diputar pada pemutar cakram CD ku karena pada waktu itu teknologi dan gadget secanggih iPOD belum ada.
Sampai sekarang pun, setelah bertahun-tahun, setelah era CD telah berangsur berakhir dan tergantikan dengan iPOD yang kebetulan kepunyaanku adalah U2 Special Series Limited Edition,
aku tak juga tahu pasti kenapa aku suka U2. Kalau cuma disuruh menjawab bahwa U2 itu menarik karena lirik-lirik lagunya kuat ataupun karena mereka adalah band yang ber-proses,
ya bisa saja, tapi mencari alasan yang paling hakiki mengapa aku bisa suka dengan U2, itu sama saja dengan mencari alasan kenapa kita, orang Indonesia, kebanyakan dan bahkan hampir
semua sangat suka dengan yang namanya nasi.
Sepertinya ini berlebihan? Sungguh tidak! Untuk menghargai sebuah band terbesar sepanjang sejarah peradaban aku memang tak mau menyandingkan diri melalui deskripsi yang miskin.
U2 adalah hal termanis… the sweetest thing dalam musik, anugerah yang datangnya tak tentu seabad sekali.
Postingan ini ditulis oleh Donny Verdian dan telah pernah dipublikasikan sebelumnya di website pribadinya
Popularity: 32% [?]
Leave a Reply